
Kembangkan Model Pembelajaran Matematika Berbasis Kebencanaan, Peneliti Uji Inovasi Pembelajaran di MIN 5 Pidie Jaya
PIDIE JAYA, ACEH — Upaya memulihkan pembelajaran bagi siswa terdampak banjir membutuhkan inovasi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui penelitian pengembangan model pembelajaran matematika berbasis kebencanaan dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) bagi siswa MIN 5 Pidie Jaya, Aceh.
Penelitian ini dilakukan oleh Zikra Hayati, M. Pd sebagai Ketua, bersama Nida Jarmita, M. Pd kolaborasi dengan mahasiswa PGMI Annisa Fitri Sinaga dan Lia Fitri. Penelitian ini berangkat dari pentingnya menghadirkan pembelajaran matematika yang kontekstual, bermakna, dan dekat dengan kehidupan siswa, terutama dalam situasi pascabencana. Melalui pendekatan RME, pengalaman dan situasi nyata dapat digunakan sebagai konteks untuk membantu siswa memahami konsep matematika, mengembangkan kemampuan numerasi, serta membangun keterampilan pemecahan masalah.


Gambar Keadaan MIN 5 Pidie Jaya Sebelum dan Sesudah Banjir November 2025
Menghubungkan Matematika dengan Konteks Kebencanaan
Realistic Mathematics Education (RME) merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan masalah kontekstual sebagai titik awal pembelajaran matematika. Siswa didorong untuk mengeksplorasi masalah, mengembangkan strategi penyelesaian, menggunakan representasi matematika, dan mendiskusikan hasil pemikirannya.
Dalam pembelajaran berbasis kebencanaan, konteks banjir dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas matematika sesuai dengan usia dan capaian pembelajaran siswa. Sebagai contoh, siswa dapat belajar membaca tabel dan diagram, melakukan operasi hitung, serta memahami pengukuran melalui permasalahan kontekstual yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini diharapkan dapat membantu siswa memahami bahwa matematika tidak hanya berkaitan dengan rumus dan angka di buku pelajaran, tetapi juga dapat digunakan untuk memahami berbagai persoalan nyata di lingkungan mereka.
Penggunaan konteks bencana tetap perlu memperhatikan kenyamanan dan kondisi emosional anak. Pembelajaran harus dirancang secara aman dan edukatif, tanpa mengekspos siswa pada pengalaman yang dapat menimbulkan tekanan emosional.
Hasil Validasi Menunjukkan Penilaian Positif terhadap Aspek Materi dan Media
Dalam proses pengembangan, model pembelajaran ini dinilai melalui beberapa aspek, yaitu materi, bahasa, dan media. Hasil penilaian menunjukkan bahwa aspek media memperoleh skor 92,59%, sedangkan aspek materi memperoleh skor 89%.
Penilaian ahli media sebesar 92,5% menunjukkan hasil yang kuat pada aspek media yang dinilai. Sementara itu, skor ahli materi sebesar 82,50% memberikan gambaran mengenai penilaian terhadap aspek materi pembelajaran berdasarkan instrumen yang digunakan dalam penelitian.
Adapun hasil validasi ahli bahasa mencapai 67,50%. Temuan ini perlu menjadi perhatian dalam penyempurnaan produk, terutama untuk memastikan bahwa bahasa dan petunjuk pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar. Interpretasi akhir terhadap setiap skor tetap mengacu pada kategori penilaian yang ditetapkan dalam instrumen penelitian.
Selain validasi ahli, penelitian ini juga memperoleh respons dari pengguna. Respons siswa mencapai 85%, sedangkan respons guru sebesar 89%. Kedua hasil tersebut memberikan gambaran mengenai tanggapan siswa dan guru terhadap model pembelajaran yang dikembangkan.
Respons siswa dan guru merupakan informasi penting dalam proses pengembangan karena membantu peneliti memahami bagaimana produk diterima oleh pengguna. Namun, respons positif tidak dengan sendirinya membuktikan peningkatan hasil belajar atau efektivitas model; kesimpulan tersebut memerlukan data pengujian yang sesuai.
Menjadi Alternatif untuk Pemulihan Pembelajaran Pascabanjir
Bencana dapat menimbulkan tantangan terhadap kesinambungan pendidikan. Oleh karena itu, pemulihan pembelajaran perlu mempertimbangkan bukan hanya keberlangsungan kegiatan belajar, tetapi juga kebutuhan akademik dan kondisi siswa.
Pengembangan model pembelajaran matematika berbasis kebencanaan dengan pendekatan RME berpotensi menjadi salah satu alternatif untuk membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual. Guru dapat memanfaatkan masalah yang relevan dengan lingkungan siswa untuk mendorong pemahaman konsep, diskusi, dan pengembangan kemampuan numerasi.
Bagi siswa, pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Bagi guru, model ini dapat menjadi salah satu referensi untuk merancang aktivitas matematika yang adaptif terhadap kondisi lokal.
Kontribusi bagi Pendidikan Dasar di Aceh
Penelitian yang mengambil konteks MIN 5 Pidie Jaya ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap pengembangan inovasi pembelajaran matematika di wilayah yang menghadapi risiko bencana.
Hasil penilaian ahli serta respons guru dan siswa menjadi bagian dari informasi yang dapat digunakan untuk menyempurnakan model pembelajaran. Secara khusus, hasil validasi bahasa perlu diperhatikan lebih lanjut agar penyajian materi dan petunjuk kegiatan semakin sesuai dengan kebutuhan siswa sekolah dasar.
Ke depan, model pembelajaran ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut melalui penyempurnaan perangkat pembelajaran dan pengujian pada konteks sekolah yang lebih luas. Penelitian lanjutan juga dapat mengkaji dampaknya terhadap kemampuan numerasi, pemahaman konsep, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran matematika.
Melalui inovasi ini, pembelajaran matematika diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pendidikan dan mendukung pemulihan pembelajaran bagi anak-anak yang terdampak bencana.
Tentang Penelitian
Sumber Data: Laporan Penelitian tahun 2026Pengembangan Model Pembelajaran Kebencanaan Berbasis Rme Untuk Mendukung Learning Recovery Siswa Sd Terdampak Banjir di Pidie Jaya
Sumber Dana: DIPA UIN Ar-Raniry Banda Aceh Tahun 2026
Afiliasi: [PGMI, UIN Ar-Raniry Banda Aceh]
